1. Jenis-jenis mobilisasi dan toleransi dalam melakukan aktivitas
2. Gangguan dalam melakukan mobilisasi
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi
4. Asuhan keperawatan dalam mobilisasi
5. Memahami pergerakan sendi sinovsial, jenis dan fungsinya
Langkah 7
1. Toleransi dalam melakukan aktivitasBagian leher
Fleksi menggerakan dagu menempel
Ekstensi mengembalikan kepala ke posisi tegak
Hiperektensi menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin
Fleksin laternal memiringkan kepala sejauh mungkin ke arah bahu
Rotasi memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler
Dari bahu
Fleksi
Eksensi
Hiperek
Jenisnya (internet)
Mobilisasi penuh
Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi social dan menjalankan peran sehari-hari
Mobilisasi sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan syaraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya.
Mobilisasi sebagian
Toleransi aktivitas
Jenis dan jumlah latihan atau kerja dapat dilakukan seseorang
Faktor yang mempengaruhi
Fsiologis
Emosional
Perkembangan
2. Tirah baringan
Imobilisasi
Penurunan fungsi muskulo skeletal
Perubahan fungsi neorologis
Nyeri
Defisit perseptual
Berkurangnya kemampuan kognitif
Jatuh
Perubahan hubungan sosial
Aspek psiolagis
Gangguan Mobilisasi
Gangguan mobilisasi adalah suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami oleh seseorang.
Penyebab imobilitas fisik bermacam-macam dan dapat dikategorikan berhubungan dengan lingkungan internal dan eksternal.
• Faktor internal
1. penurunan fungsi muskuloskeletal
a. otot-otot (atrrofi, distrofi, atau cedera)
b. tulang (infeksi, fraktur, tumor, osteoporosis, atau osteomalasia)
c. sendi (arthritis dan tumor)
d. kombinasi struktur (kanker dan obat-obatan)
2. perubahan fungsi neurologis
a. infeksi (mis.ensefalitis)
b. tumor
c. trauma
d. obat-obatan
e. penyakit vaskuler (mis. Stroke)
f. penyakit demielinasi (mis. Sklerosis multiple)
g. penyakit degeneratif (mis. Penyakit parkinson)
h. terpajan produk racun (mis. Karbonmonoksida)
i. gangguan metabolik (mis. Hipoglikemia)
j. gangguan nutrisi
3. nyeri
penyebabnya multiple dan bervariasi seperti penyakit kronis dan trauma.
4. defisit perseptual
kelebihan atau kekurangan masukan persepsi sensori.
5. berkurangnya kemampuan kognitif
gangguan proses kognitif, seperti demensia berat
6. jatuh
a. efek fisik : cedera atau fraktur
b. efek psikologis : sindrom setelah jatuh
7. perubahan hubungan sosial
a. faktor-faktor aktual (mis. Kehilangan pasangan, pindah jauh dari keluarga atau teman-teman)
b. faktor-faktor persepsi (mis. Perubahan pola pikir seperti depresi)
8. aspek psikologis
ketidakberdayaan dalam belajar, depresi.
• Faktor eksternal
1. program terapeutik
program penanganan medis memiliki pengaruh yang kuat terhadap kualitas dan kuantitas pergerakan pasien. Contoh program pembatasan meliputi : faktor-faktor mekanis dan farmakologis, tirah baing, dan restrein.
a. faktor mekanis dan farmakologis : mencegah atau menghambat pergerakan tubuh dengan menggunakan peralatan eksternal (gips dan traksi) atau alat-alat ( yang dihuubuungkan dengan pemberian cairan intravena, pengisapan gaster, kateter urin, dan oksigen). Agen farmasetik seperti sedatif, analgesik, tranquilizer, dan anesteti yang digunakan unntuk mengubah tingkat kesadaran pasien dapat mengurangi pergerakan atau menghilangkan secara keseluruhan.
b. Tirah baring dapat dianjurkan pada penanganan penyakit atau sekuela cedera. Istirahat dapat menurunkan kebutuhan metabolik, kebutuhan oksigen, dan beban kerja jantung. Selain itu, istirahat memberikan kesempatan pada sistem muskuloskeletal untuk relaksasi, menghilangkan nyeri, mencegah iitasi yang berlebihan dari jaringan yang cedera, dan meminimalkan efek gravitasi.
c. Restrein fisik dan pengaman tempat tidur biasanya diunakan pada lansia yang diinstitusionalisasi.
2. karakteristik penghuni institusi
tingkat mobilitas dan pola perilaku dari kelompok teman sebaya klien dapat mempengaruhi pola mobilitas dan perilaku.
3. karakteristik staff
tiga karakteristik dari staff keperawatan yang mempenaruhi pola mobilitas adalah pengetahuan, komitmen, dan jumlah. Pengetahuan dan pemahaman tentang konsekuensi fisiologis dari imobilitas dan tindakan keperawatan untuk mencegah pengaruh imobilitas sangat penting untuk mengimplementasikan perawatan untuk memaksimalkan mobilitas. Jumlah anggota staff yang adekuat dengan suatu komitmen untuk menolong lansia mempertahankan kemandiriannya harus tesedia untuk mencegah komplikasi imobilitas.
4. sistem pemberian asuhan keperawatan
alokasi praktek fungsional dapat meningkatkan ketergantungan dan komplikasi dari imobilitas. Ketika perawatan dibagi menjadi tugas-tugas, keutuhan dan interaksi klien akan terabaikan.
5. hambatan-hambatan
hambatan fisik dan arsitektur dapat mengganggu mobilitas. Hambatan fisik termasuk kurangnya alat bantu yang tersedia untuk mobilitas, pengetahuan dalam mengunakan alat bantu mobilitas tidak adekuat, lantai yang licin, dan tidak adekuatnya san daran untuk kaki. Seringkali rancangan asitektur umah saki atau panti jompo tidak memfasilitasi atau memotivasi klien untuk aktif dan tetap bergerak.
6. kebijakan-kebijakan institusional
praktek pengaturan formal dan informal mengendalikan keseimbangan antara pemeintah institusional dan kebebasan individu. Semakin ketat kebijakan, semakin besar efeknya pada mobilitas.
Dampak fisiologis dari imobilitas dan ketidakaktifan antara lain :
No. efek hasil
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14. Penurunan konsumsi oksigen maksimum.
Penurunan fungsi ventrikel kiri
Penurunan curah jantung
Penurunan volume sekuncup
Peningkatan katabolisme protein
Peningkatan pembuangan kalsium
Perlambatan fungsi usus
Pengurangan miksi
Gangguan metabolisme glukosa
Penurunan ukuran thoraks
Penurunan aliran darah pulmonal
Penurunan cairan tubuh total
Gangguan sensori
Gangguan tidur Intoleransi orthostatik
Peningkatan denyut jantung, sinkop
Penurunan toleransi latihan
Penurunan kapasitas kebugaran
Penurunan massa otot tubuh, atrofi muskular, penurunan kekuatan otot
Osteoporosis disuse
Konstipasi
Penurunan evakuasi kandung kemih
Intoleransi glukosa
Penurunan kapasitas fungsional residual
Atelektasis, penurunan PO2, peningkatan pH
Penurunan volume plasma, penurunan keseimbangan natrium
Perubahan kognisi, depresi dan ansietas, perubahan persepsi
Bermimpi pada siang hari, halusinasi
3. Dari internet
Gaya hidup
Proses penyakit dan injuri
Kebudayaan
Tingkat energi
Usia dan status perkembangan
4. Dari buku
Pengkajian
Diagnosis
Perencanaan
Implementasi
Evaluasi
5. Memahami sendi sinovsial
Sendi yang paling umum memungkinkan gerakan yang bebas tetapi beberapa sendi sinovsial secara relatif tidak bergerak(misalnya: sendi sakroliaka)
Jenisnya
6. Sendi peluru persendian panggul dan bahu
Sendi engsel gerakan melipat hanya pada 1 arah siku dan lutut
Sendi pivot sendi antara radius dan ulna memungkinkan rotasi untuk melakukan aktivitas seperti memutar pintu
Sendi pelana gerakan pada 2 bidang yang saling tegak
Lurus sendi pada dasar ibu jari, sendi pelana dan dua sumbu
Sendi peluncur gerakan terbatas ke semua arah sendi-sendi tulang
Karpalia karpalia di pergerakan tangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar